Lombok Getaway (Part 2)

Hari kedua di Lombok, saya dan adik-adik saya berencana menghabiskan waktu di Gili Trawangan. Sebelum berangkat, kami sarapan terlebih dahulu di restoran hotel (Salza Resto). Salza Resto terletak di lantai atas. Sambil makan, para tamu bisa menikmati pemandangan kolam renang, pohon kelapa, gunung, bahkan laut sekaligus. Segeerrrrr...!




Di sini menu sarapannya tidak disajikan secara prasmanan seperti kebanyakan hotel. Para tamu diberikan pilihan paket menu yang setiap paketnya berisi appetizer, main course, dan dessert. Saya sendiri memilih paket oriental dengan menu utama bubur ayam.



Selesai sarapan, saya, Nadya, dan Nabila diantar Pak Sahwan ke pelabuhan Bangsal. Dalam perjalanan, ada kejadian yang kurang menyenangkan. Karena kondisi jalan yang berkelok-kelok, Nabila yang sejak awal (sebelum berangkat) sudah kurang sehat malah jadi drop. Akhirnya, kami pun sepakat kalau Nabila sebaiknya tidak ikut ke Gili Trawangan dan kembali ke hotel untuk istirahat.


Di pelabuhan Bangsal, saya dan Nadya membeli tiket fast boat PP seharga 170 ribu rupiah per orang. Sebenarnya ada kapal yang lebih murah. Tapi, kapal tersebut baru berangkat kalau jumlah penumpangnya sudah memenuhi kuota. Sementara fast boat berangkat berdasarkan jadwal (satu jam sekali). Jadi walaupun penumpangnya hanya sedikit, dia akan tetap berangkat.




Sekitar pukul 11 siang, kapal yang kami tumpangi pun berangkat. Suasana di dalam kapal ramai oleh wisatawan domestik maupun asing.




Sebelum ke Gili Trawangan, kapalnya singgah dulu di Gili Air dan Gili Meno untuk menurunkan atau menaikkan penumpang. Sebelas dua belas lah kayak naik bus atau kereta :p




Sesampainya di pelabuhan Gili Trawangan, saya dan Nadya belok ke kanan dan berjalan menyusuri pantai. Awalnya, kami mau menyewa sepeda untuk berkeliling pulau. Tapi karena keasyikan jalan, kami lupa dan baru sadar saat sudah jauh dari tempat penyewaan sepeda :|




Di sini kendaraan bermotor dilarang. Selain sepeda, kendaraan umum yang dipakai adalah cidomo (kereta kuda). Harganya lumayan dan tidak bisa ditawar karena tarifnya sudah jelas.




Tujuan utama kami adalah Hotel Ombak Sunset. Di pantainya terdapat ayunan yang sangat hits di kalangan wisatawan. Sebagian besar wisatawan yang datang ke Gili Trawangan pasti pernah berfoto di ayunan tersebut. Meskipun berjalan kaki lebih melelahkan, tapi karena pemandangannya WOW, jadi bisa dibilang tidak terlalu berasa. #tapibohong #betterpakesepada #nyeselmemangselalubelakangan



Sepanjang jalan, kami juga melihat banyak cafe dan restoran. Sebagian besar menu yang ditawarkan adalah western food.



Hampir setengah jam jalan-berhenti-jalan lagi, kami pun sampai di Hotel Ombak Sunset. Karena sudah capek dan lapar akut, kami langsung menuju restorannya untuk makan siang. Masing-masing dari kami memesan paket nasi dengan ayam taliwang yang rasanya standar dan disajikan dalam keadaan yang sudah tidak hangat (dingin).

PELAJARAN HIDUP : Kalau ke Gili Trawangan, lebih baik memesan western food, seperti pizza. Banyak yang bilang rasanya lebih okay dibanding Indonesia food-nya :D


Setelah makan, saya dan Nadya bersantai di pinggir pantai. Awalnya, kami duduk-duduk manis di salah satu tempat duduk warna-warni yang tersedia. Tapi karena siang itu panasnya cukup membuat kepala saya cenat-cenut tak karuan, jadi lah kami pindah ke salah satu bangku panjang yang ada payungnya.




Sambil tidur-tiduran, kami melihat banyak orang silih berganti foto-foto di ayunan paling "heeeiiitttsss" di sini. Kami pun tidak melewatkan kesempatan tersebut. Tapi saat mulai menginjakkan kaki ke dalam air, saya kok merasa ada yang menusuk-nusuk telapak kaki saya dan AW ! AW ! AW ! Ternyata di dasarnya berisi pecahan kerang semua. Terus, itu orang-orang kok pada bisa ke tempat ayunan ? Berenang atau gimana ? Berhubung saya dan Nadya tidak membawa baju ganti hari itu, kami pun cukup puas berfoto dengan latar belakang ayunan tersebut.




Sekitar pukul 3 sore kami kembali ke sekitar dermaga menggunakan cidomo. Kusir cidomo yang kami tumpangi sangat suka mengobrol. Dia bercerita mengenai macam-macam karakter turis yang datang ke Gili Trawangan. Selain itu, dia juga punya slogan hidup "No money, no honey". Hmmm..ok sip !


Sambil menunggu waktu keberangkatan kapal, kami bermain di pantai sekitar dermaga. Di sini suasananya lebih ramai daripada di Ombak Sunset, tapi pantainya lebih bagus dan bersih dari pecahan karang (y)



Sekitar pukul 6 sore kami sampai di Senggigi. Meskipun malam minggu, suasana di sini sangat sepi. Kami pun memutuskan untuk makan malam di hotel sambil menonton film saja.



PELAJARAN HIDUP : Kalau ke Lombok bersama keluarga atau teman, sebaiknya menginap di Gili Trawangan karena lebih banyak hiburan (ada kehidupan malam). Senggigi lebih cocok untuk pasangan yang mau honeymoon :D

Komentar

Postingan Populer