Lombok Getaway (Part 1)

Akhir Februari 2016 lalu, saya dan 2 orang adik perempuan saya (Nabila dan Nadya) menghabiskan akhir pekan di Lombok dan sekitarnya. Perjalanan kali ini termasuk ke dalam "mendadak jalan" saya. Awalnya, Nabila dan Nadya saja yang akan pergi. Tapi karena seminggu sebelum berangkat Nabila kurang sehat dan ada kemungkinan tidak jadi ikut, maka Nadya pun mengajak saya.


Jumat siang (sekitar pukul setengah 3 siang) saya berangkat dari Terminal 1 Soekarno-Hatta International Airport dengan menggunakan Batik Air (Nabila dan Nadya sudah berangkat terlebih dahulu dengan menggunakan penerbangan pagi Garuda Indonesia). Ini pertama kalinya saya menggunakan Batik Air. So far, fasilitasnya mirip Garuda Indonesia (ada TV serta include bagasi dan makan). Hanya saja, untuk kelas economy tidak disediakan headset (harus bawa sendiri atau beli) dan makanan yang disajikan (sayangnya) dalam keadaan dingin :|


Setelah terbang selama 2 jam, sekitar pukul setengah 6 sore (Lombok lebih cepat 1 jam dari Jakarta), saya tiba di Lombok International Airport. Sebelum mendarat, saya sempat melihat jejeran kepulauan Gili dari pesawat. Hanya saja, karena cuacanya mendung jadi agak susah untuk mengambil foto. Alhasil, foto yang saya ambil mirip seperti pesawat yang sedang buat kotoroan (lihat gambar di atas) :p

(source: www.lombokairportonline.com)

Karena saya tidak punya bagasi, maka setelah keluar dari pesawat saya langsung menuju area penjemputan untuk mencari Pak Sahwan (supir saya selama di Lombok). Begitu keluar dari pintu kedatangan, ternyata hujan dan tampak banyak orang yang sedang berteduh. Uniknya, sebagian besar dari mereka bukan penjemput, melainkan warga sekitar yang menghabiskan sorenya dengan menonton pesawat terbang dan para pedagang asongan. Endonesaaahhh :D

Selain itu, ada yang lucu dengan penduduk di sini. Saya sempat tidak sengaja mengucapkan kalimat "Eh..hujan.." dengan cukup keras. Kemudian, beberapa kali saya mendengar ada yang menyahut "Hujan air ini." Lah..memangnya selain hujan air di sini ada hujan apa lagi ?! *creepy mode on*

(source: lombok.biz)

Dari bandara, saya langsung menuju Svarga Resort di daerah Senggigi. Nabila sudah memesan 1 kamar untuk 2 malam di situ. Lama perjalanan yang ditempuh kurang lebih 1 jam. Begitu sampai hotel, waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam. Saya pun langsung mengajak Nabila dan Nadya makan malam. Kami makan di Warung Manega (restoran seafood) yang berada di pinggir pantai Senggigi. Menurut Pak Sahwan, restoran ini merupakan favorit para wisatawan.


Sayangnya, kesan yang saya dapat kurang menyenangkan. Pertama, mungkin karena penerangan yang minim. Terutama di area outdoor dimana pengunjung tidak bisa menikmati suasana pantai Senggigi-nya di malam hari. Hampir semua pengunjung, termasuk saya, akhirnya lebiih memilih duduk di area indoor. Selain itu, rasa makanannya too standard dan kurang fresh. Tidak sebanding dengan harganya yang bisa dibilang "lumayan" (saya dan adik-adik saya masing-masing memesan paket seafood bakar include dengan nasi putih dan minum).

Di malam hari, suasana di Senggigi terbilang cukup sepi. Makanya, setelah makan saya, Nabila, dan Nadya langsung kembali ke hotel. Oh iya, hotel tempat kami menginap ini (Svarga Resort) mengusung konsep "healthy resort". No alcohol and MSG :D

Untuk desain bangunannya modern-minimalis. Tapi karena didominasi oleh pohon-pohon kelapa, sehingga nuansa back to nature-nya tetap terasa.




Kamar yang kami tempati bernama Mavwa Room. Ukuran cukup luas. Tempat tidurnya juga (king size bed). Cukup lah untuk kami bertiga.




Sementara desain kamar mandinya mengusung konsep open sky (semi outdoor). Bagi saya, it's okay kalau masih siang. Tapi kalau malam, karena suasananya remang-remang dan terdengar suara-suara serangga dari balik pepohonan, kesannya malah jadi menyeramkan. Apalagi selama saya menginap, setiap malamnya selalu turun hujan :D


Komentar

Postingan Populer