Winter in Kanto (Part 1)

Nippon..Nippon..cha..cha..cha..cha..cha! Mimpi saya ke Jepang akhirnya menjadi nyataaa~

Akhir Januari 2016 kemarin, saya bersama teman dekat saya dari SMA (Vitha) menikmati musim dingin di Jepang. Tepatnya di wilayah Kanto (Tokyo dan sekitarnya). Perjalanan kali ini merupakan perjalanan yang paling berkesan buat saya. Bukan hanya karena mimpi saya selama hampir 20 tahun menjadi nyata, tapi juga hampir semua hal yang berkaitan dengan perjalanan ini saya siapkan sendiri dari jauh-jauh hari.

Sekitar pukul 8.30 malam, saya dan Vitha berangkat dari Terminal 3 Soekarno-Hatta International Airport ke Kuala Lumpur dengan menggunakan penerbangan AirAsia. Kami transit di terminal KLIA2 selama hampir 15 jam (penerbangan berikutnya baru berangkat besok siang). Karena waktu transit yang cukup lama tersebut, kami pun menginap di Tune Hotel KLIA2.

Ini pertama kalinya saya mendarat di terminal KLIA2 (sebelumnya penerbangan AirAsia di terminal LCCT). Terminalnya lebih bagus dan luas dibandingkan LCCT. Bahkan, meskipun hotelnya masih dalam satu lokasi, tapi kami butuh waktu 15-20 menit untuk mencapainya. Untung saja petunjuk keberadaan hotelnya lumayan jelas.


Tune Hotel KLIA2 sendiri merupakan budget hotel dan self service. Meskipun begitu, secara keseluruhan hotel ini mendapat review yang bagus. Dekorasinya juga modern-minimalis dan bergaya muda.





Keesokan harinya, sekitar pukul 11 siang, kami check-out dari hotel. Sebelum masuk ke ruang tunggu, kami bertemu dengan adik bungsu saya yang sedang kuliah di Kuala Lumpur (Habibie) terlebih dahulu. Kebetulan dia mau menjemput temannya di sini.

Hey Bro!

Setelah makan siang bersama di Nando's, kami pun berpisah. Habibie menuju ke area kedatangan, sementara saya dan Vitha bergegas menuju ruang tunggu keberangkatan. Sebelum masuk ruang tunggu, ada sebuah kejadian dodol. Petugas yang memeriksa paspor dan tiket di pintu masuk, terus saja membolak-balik paspor saya seperti mencari sesuatu.

Petugas : Kamu kalau mau ke Jepang harus pakai visa.

Saya : Iya saya tahu. Itu kan visa saya ada di situ.

Petugas : (mencari lagi)

Saya : (lumayan kesal, lalu mengambil paspor dari tangan petugas dan membuka halaman yang ada visa waiver-nya)

Petugas : Ini visanya??? (tampang bingung, terus bertanya ke teman sebelahnya, setelah mendapatkan penjelasan dari temannya baru dia tersenyum) Maaf, saya sudah lama tidak berjaga di sini.

Saya : -__________________-

Ternyata..oh..ternyata..ada juga petugas yang belum tahu soal visa waiver. By the way, visa waiver merupakan visa untuk para pengguna e-paspor. Bentuknya hanya seperti struk belanja. Berbeda dengan visa biasa yang dicetak di halaman paspor dan ada fotonya. Lebih detilnya bisa lihat di :

http://www.id.emb-japan.go.jp/news14_30.html

Sekitar pukul 2.30 siang, pesawat AirAsia X yang saya dan Vitha tumpangi ke Haneda pun berangkat. Kebetulan kami mendapat duduk di barisan yang hanya terdapat 2 kursi saja. Thank God! Jadi lebih leluasa deh kalau mau bolak-balik ke toilet \m/


Seperti biasa, kalau menggunakan penerbangan low cost kita harus pintar-pintar menyiasati agar tidak bosan selama perjalanan. Kali ini saya menghabiskan waktu dengan mendengarkan lagu dan mewarnai. Sementara Vitha, selain tidur sambil mendengarkan musik dari handphone-nya, kerjaannya hanya bertanya kapan sampai..kapan sampai..ka..pann..sam..paiii..:D




Untuk makan malam, kami sudah memesan ginger fried rice with vegetable chicken via online. Ternyata rasanya lumayan enak dan cocok di lidah (y)



Setelah kurang lebih 7 jam di pesawat, sekitar pukul 10.30 malam waktu setempat (Jepang lebih cepat 2 jam dari Jakarta) kami tiba di Haneda Airport International Terminal. Kondisi saat akan mendarat cukup mendebarkan. Di luar tidak tampak apapun. Kabut tebal menutupi hampir seluruh daratan Tokyo. Bahkan saya baru tahu kalau kami sudah mendarat saat roda pesawat benar-benar menyentuh landasan.


Untuk malam ini kami bermalam di airport. Kebetulan proses imigrasi dan pengambilan bagasi cukup memakan waktu. Rasanya tidak akan sempat mengejar kereta terakhir ke tengah kota (kereta hanya beroperasi sampai pukul 12 malam). Kami pun menuju area Tokyo Pop Town di lantai 5. Menurut info yang saya dapat, area ini enak untuk dijadikan tempat bermalam karena jauh dari suara berisik eskalator yang entah kenapa selalu menginformasikan setiap ada yang akan turun atau naik :D


Sesampainya di lantai 5, ternyata "kursi empuk" yang menjadi sasaran kami sudah terisi semua. Kami pun memilih tidur di kursi "super panjang, tapi keras" yang tidak jauh dari situ. Sebenarnya bermalam di Haneda itu enak-enak saja. Toilet oke punya. Lawson di lantai dasar buka selama 24 jam. Mushola juga ada di lantai 3. Tapi kenapa dari berbagai blog yang saya baca, tidak ada yang memberi tahu kalau penghangatnya hanya dihidupkan sampai pukul 12 malam sajaaaaaa?!

PELAJARAN HIDUP : Kalau badan cuma biasa kena dingin AC doang, please jangan sok-sok-an bermalam di bandara saat musim dingin!


Meskipun kedinginan, saya tetap berusaha untuk tidur. Tapi saat mulai terlelap, tiba-tiba saya mendengar suara berisik dari sekumpulan gadis Jepang yang berkumpul tidak jauh dari situ. Mereka mengobrol sambil tertawa-tawa dengan suara keras tanpa mempedulikan sekitar. Ya Tuhaaannn..cobaan apa lagi ini?! Remote mana remote buat nge-mute tuh suara :|

Komentar

Postingan Populer