Selasa, 24 November 2015

Random Trip to Singapore (Part 1)

Mei 2014 lalu, teman dekat saya dari SMA (Vitha) dan adiknya (Farah) minta ditemani liburan ke Singapore. Awalnya saya menolak. Selain karena sudah pernah berkunjung ke situ beberapa kali, kondisi keuangan saya saat itu juga sedang kurang bagus (sampai sekarang juga masih sama, sih). Tapi karena Vitha memberikan tawaran kalau tiket pesawat dan penginapan ditanggung sama dia, ya..nggak mungkin lah saya menolak :p

(source: www.utiket.com)

Sekitar pukul 9.30 malam, kami berangkat dari Terminal 2 Soekarno-Hatta International Airport menggunakan Jetstar (salah satu penerbangan murah milik Australia). Setelah hampir 1 jam di pesawat, sekitar pukul 12.30 dini hari (Singapore lebih cepat 1 jam daripada Jakarta), kami tiba di Terminal 1 Singapore Changi Airport. Karena MRT sudah berhenti beroperasi dan kami juga sudah memutuskan untuk tidak akan menggunakan taksi selama di sini (ongkos taksi di sini lumayan mahal), maka kami memutuskan untuk bermalam di bandara.


Setelah melewati imigrasi dan mengambil bagasi, kami naik 1 lantai ke departure hall (spot favorit para turis yang kemalaman untuk tidur). Saat itu sudah banyak deretan kursi yang terisi. Kami pun memilih deretan kursi yang agak diujung dan dekat dengan toilet. Berbeda dengan Vitha dan Farah, malam itu saya tidak bisa tidur dengan nyenyak. Berkali-kali saya terbangun memastikan barang-barang yang kami bawa masih di tempatnya. Selain itu, saya juga takut diusir setiap melihat ada petugas jaga dengan senjata lengkap yang lewat. *anaknya parnoan banget*

Terminal 1 Singapore Changi Airport
(source: www.changiairportgroup.com)

Sekitar pukul 6 pagi, kami bersiap-siap menuju Terminal 2 (tempat stasiun MRT berada). Sebelum naik MRT, kami membeli Singapore Tourist Pass untuk 3 hari terlebih dulu. Dengan kartu ini, kami bebas naik-turun MRT, LRT, maupun bus selama 3 hari tanpa harus isi ulang lagi.

(source: www.thesingaporetouristpass.com.sg)

Tujuan pertama kami adalah Woke Home Capsule Hostel yang terletak di daerah Clarke Quay. Hostel ini lumayan terkenal di kalangan backpacker. Menurut review tempatnya bersih dan lokasinya tenang (tidak ramai seperti China Town atau Little India). Dari stasiun Changi ke stasiun Clarke Quay, kami harus berganti kereta 2 kali. Pertama di stasiun Tanah Merah, kemudian di stasiun Outram Park.

(source: jalanjalansingapura.com)

Ternyata hostel ini terletak di lantai 4-6 sebuah gedung kecil berwarna abu-abu. Karena kami baru bisa check-in pukul 2 siang, maka kami hanya menitipkan koper di resepsionis dan memutuskan untuk ke ION Orchard saja. Kebetulan si Vitha sudah gatal ingin berbelanja. *sigh*


Dari stasiun Clarke Quay ke stasiun Orchard, kami harus berganti kereta di stasiun Dhoby Ghaut. Sesampainya di ION, kami makan terlebih dahulu di food hall-nya yang terletak di lantai basement. Setelah berkeliling mall hampir 3 jam lebih, kami beristirahat di depan mall sambil makan ice cream uncle yang hits itu. Baru kemudian kembali ke hostel untuk check-in dan beristirahat sebentar.





Kamar yang kami tempati adalah kamar khusus wanita. Di sini kurang lebih terdapat 20 kotak tempat tidur. Masing-masing kotak berisi kasur, TV flat kecil, meja kecil, dan cermin. Selain itu, di dalam kamar juga terdapat loker untuk menyimpan barang. Sedangkan kamar mandi dan toilet-nya terletak di luar kamar (masih di lantai yang sama). Di dalam kamar, kami tidak diperbolehkan untuk menggunakan alas kaki yang dibawa dari luar. Sebagai gantinya, di depan kamar sudah tersedia loker sepatu yang berisikan selop khusus untuk di dalam kamar.

(source: cleartrip.com)

(source: wokehomehostel.com)

Sore harinya kami keluar lagi untuk berbelanja makanan kering di Mustafa Centre. Kali ini kami berjalan menuju stasiun Clarke Quay dengan lebih santai. Daerah ini memang tenang dan nyaman untuk berjalan-jalan sore. Saya yang suka jalan ini selalu envy dengan fasilitas trotoar di Singapore. Kapan ya..di Jakarta juga bisa seperti ini? :p


Dari stasiun Clarke Quay, kami hanya perlu naik MRT menuju stasiun Farrer Park saja. Setelah berbelanja, kami makan malam di sebuah restoran India yang masih terletak di sekitar Mustafa Centre. Kami masing-masing memesan murtabak (martabak) dengak kari dan teh tarik yang rasanya..yuuummm!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar