Lagi-Lagi Bandung (Part 1)

Libur lebaran tahun ini, lagi-lagi saya bersama keluarga (ayah, ibu, 2 orang adik laki-laki/Ihsan dan Habibie, dan 2 orang adik perempuan/Nabila dan Nadya) menghabiskan waktu di daerah Bandung dan sekitarnya. Agar tidak bosan, kami searched sana-sini tempat-tempat wisata yang belum pernah didatangi sebelumnya.

Hari kedua lebaran, sekitar pukul 1 siang, kami berangkat dengan menggunakan 2 mobil (saya satu mobil dengan ibu saya, Ihsan, dan Nabila). Memasuki tol JORR jalanan sudah mulai kurang bersahabat. Kemacetan panjang terjadi hingga tol Cikampek. Banyak tempat istirahat "bagus" (biasanya ada pom bensin dan Starbucks di dalamnya) yang terpaksa ditutup karena kepenuhan pengunjung. Kami pun berhenti di sebuah tempat istirahat "biasa" untuk ke toilet. Itu saja antreannya sudah mengular. Bahkan kami parkir di luar tempat istirahat.


Ada sebuah kejadian konyol saat saya sedang mengantre toilet. Antrean panjang dan bau toilet yang tidak sedap membuat suasana saat itu jadi kurang menyenangkan. Hal itu juga tampak dari wajah para wanita lain yang sedang mengantre. Saat sedang meratapi nasib yang kok begini amat ya, tiba-tiba salah satu pintu toilet terbuka dan TARAAAAA..keluar lah sosok seorang Marshanda. Iya..Marshanda. Artis yang lagi heboh karena beberapa skandal hidupnya itu. Suasana yang tadinya hening mendadak jadi ramai oleh celotehan dari para wanita yang sedang mengantre tersebut. Mereka jadi semangat untuk mengantre karena beranggapan wanita sekelas Marshanda saja mau ke toilet seperti itu. Lalu kenapa tidak dengan mereka *what?!*

Setelah berhenti di tempat istirahat tadi, kami berhenti kembali di tempat istirahat lainnya. Di sini kami shalat maghrib dan makan malam di Rumah Makan Ibu Haji Ciganea. Saya baru pertama kali makan di situ dan kesan yang didapat kurang menyenangkan. Tidak tampak keramahan dari wajah para pelayannya. Selain itu, banyak makanan yang kami pesan sold out. Ya..mungkin saat itu pengunjungnya sangat ramai dan para pelayannya juga ingin liburan.

Sekitar pukul setengah 9 malam kami sampai di Bandung. Malam itu kami menginap di sebuah rumah milik perusahaan tempat ayah saya bekerja. Letaknya di Jalan Supratman. Dari luar, rumah ini tampak sebagai bangunan lama (rumah peninggalan Belanda). Tapi begitu masuk ke dalam, ternyata dekorasi dan perabotan di dalamnya sudah baru.

Setelah merapikan barang dan beristirahat sebentar, kami yang belum mengantuk, memutuskan untuk mencari jajanan di sekitar Lapangan Gasibu (depan Gedung Sate). Meskipun harus menggunakan mobil, tapi lokasinya tidak terlalu jauh. Di sini terdapat banyak jajanan kaki lima, seperti bakso, cimol, kupat tahu, hingga kerak telor. Saya sendiri memesan bakso yang ternyata rasanya ZONK!

PELAJARAN HIDUP : Tidak semua makanan di Bandung itu enak :p

Tidak jauh dari tempat saya makan, ada seorang waria yang sedang ngamen. Setelah diberikan uang oleh sekelompok pria yang sedang makan, waria tersebut berkata "Makasih Aa..didoain deh semoga makin besar dan panjang ya.." Spontan para pria tersebut memasang wajah shock. Tapi kemudian waria tersebut melanjutkan perkataannya "Iiihh..pada ngeres, deh. Maksudnya besar rejekinya, panjang umurnya." HAHAHAHA...Gokil! Semua yang ada di situ langsung mesem-mesem menahan tawa.

(source: rhinochofathanoilham.wordpress.com)

Setelah makan, kami duduk-duduk sebentar di area tribun. Sedang asyik-asyiknya mengobrol, tiba-tiba pengamen waria tadi mendekati kami. Dasar ibu saya jahil, dia malah meladeni pengamen tersebut dengan me-request beberapa lagu. Di sela-sela bernyanyi, pengamen tersebut menggoda si Ihsan dengan bilang "Aa..tolong ya dijaga pandangannya" sambil menutup dadanya dengan selendang :D

Keesokan harinya, sekitar pukul 12 siang, kami menuju daerah Riau yang terkenal dengan factory outlet (FO)-nya. Rasanya tidak lengkap ke Bandung kalau belum shopping :p

Morning Bandung!

Kami pun memutuskan untuk berkunjung ke The Secret. Kebetulan FO ini belum pernah kami kunjungi. The Secret lumayan menonjol di antara FO lainnya karena cat bagian luarnya yang berwarna hitam. Begitu masuk, kami melewati sebuah koridor remang-remang yang dihiasi oleh boneka-boneka di pinggirnya. Setelah itu, barulah kami dihadapi dengan aneka pakaian, aksesori, tas, dan lainnya. Let's go to kalaaaappppp :D

(source: asiatour.com)

Berjalan ke bagian belakang, kami menemukan sebuah taman untuk bersantai. Di taman ini juga terdapat beberapa pedagang yang menjual jajanan, seperti otak-otak, cendol, tahu sumedang, dan lainnya.


Setelah selesai belanja, kami melanjutkan perjalanan ke Saung Angklung Udjo yang terletak di Jalan Padasuka. Sore itu kami menyaksikan Pertunjukan Bambu Petang yang digelar sekitar pukul setengah 4 sore sampai menuju maghrib. Pertunjukannya berisikan berbagai macam kesenian tradisional, mulai dari wayang golek, helaran, tari tradisional, hingga pertunjukan angklung. Bahkan di akhir acara para pengunjung diajak untuk bermain angklung bersama.

Pertunjukan Wayang Golek

Pertunjukan Helaran

Pertunjukan Tari Merak

Yang paling berkesan buat saya adalah pertunjukan angklung yang dipimpin oleh salah satu cucu Mang Udjo. Namanya Sandi dan dia masih duduk di kelas 2 SMP. Meskipun usianya terbilang muda, tapi Sandi tidak kalah dengan para konduktor senior. Dia mampu membawakan pertunjukan dengan tenang dan piawai.


Setelah pertunjukan selesai, kami makan malam di restoran yang masih terletak di area Saung Angklung Udjo. Sebelum menuju restoran, saya berkeliling toko souvenir sebentar untuk sekedar melihat-lihat.




Di dalam restoran, ada sebuah tulisan yang cukup membuat saya merenung tentang hidup. *halah*


Selesai makan, kami melanjutkan perjalanan ke Lembang. Kami sudah memesan 3 kamar untuk 2 malam di Grand Hotel Lembang. Sebenarnya hotel ini review-nya kurang bagus. Tapi karena booked hotelnya lumayan mepet, jadi sudahlah ya. Namanya juga hanya numpang tidur ini :p

Komentar

Postingan Populer